CSR: Tanggung Jawab Sosial atau Tanggung Jawab Sosialita?

Corporate Social Responsibility (CSR) atau dalam bahasa yang lebih santai, “Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan,” adalah konsep yang seharusnya menjadi jembatan emas antara perusahaan, masyarakat, dan lingkungan. Tapi, kenyataan sering kali berkata lain. Alih-alih menjadi solusi, CSR kadang malah jadi ajang sosialita - sekadar pencitraan tanpa substansi

OPINI

admin

Bayangkan ini: sebuah perusahaan besar mengadakan acara CSR berupa pembagian sembako di desa terpencil. Semua terlihat megah dengan spanduk besar bertuliskan “Kami Peduli!” Namun, setelah acara selesai, masyarakat hanya mendapat beberapa bungkus mie instan dan foto bersama. Sementara itu, para eksekutif sibuk selfie dengan latar belakang kerumunan. Apakah ini yang disebut tanggung jawab sosial?

Salah sasaran dalam pelaksanaan CSR sering terjadi karena minimnya pemahaman tentang kebutuhan masyarakat. Bukannya mencari tahu apa yang benar-benar dibutuhkan, perusahaan malah berasumsi sendiri. Akibatnya, program CSR lebih sering terlihat seperti “hadiah kejutan” yang tidak sesuai ekspektasi. Contohnya, membangun taman bermain di desa yang justru lebih membutuhkan akses air bersih.

Padahal, kunci dari CSR yang tepat sasaran adalah komunikasi. Ya, komunikasi! Bukannya sok tahu, perusahaan harus duduk bersama masyarakat dan stakeholder dalam forum terbuka. Diskusi ini bukan cuma soal formalitas, tapi untuk benar-benar memahami kebutuhan nyata masyarakat.

Namun, ada juga cerita miris lainnya: CSR yang disalahgunakan oleh oknum tertentu. Alih-alih meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dana CSR malah dialokasikan untuk kepentingan pribadi atau proyek yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tujuan sosial. Kalau sudah begini, CSR bukan lagi tanggung jawab sosial, tapi tanggung jawab “sosialita.”

Untungnya, ada harapan. Organisasi seperti ‘Masyarakat Pemantau – Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan’ hadir sebagai pengawas sekaligus fasilitator antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Mereka berusaha memastikan bahwa program CSR berjalan sesuai tujuan dan tidak hanya menjadi ajang pamer.

Jadi, mari kita mulai memikirkan CSR sebagai tanggung jawab nyata, bukan sekadar formalitas atau acara seremonial. Karena pada akhirnya, CSR bukan tentang siapa yang terlihat paling peduli, tapi siapa yang benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Ingat, tanggung jawab sosial bukan tentang “apa yang terlihat,” tapi tentang “apa yang terasa.” Jangan sampai CSR hanya jadi singkatan baru: “Cuma Sekadar Ritual.”